Fenomena ini dikenal dengan istilah Al-Istisyfa’ bi al-’Ilm (Mencari Kesembuhan dengan Ilmu Agama).
Redaksi teks riwayat para ulama berikut dinukil dari Channel Telegram Resmi Syaikh Salim Alwan Al-Husaini (Mufti Australia), yang menjabarkan bagaimana para ulama terdahulu mempraktikkan terapi ilmu ini:
1. Guru dan Murid Tetap Mengaji Saat Sakit Ringan
Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Majmu' Syarh al-Muhadzdzab (1/39) menegaskan:
"Hendaknya bagi masing-masing dari keduanya (guru dan murid) agar tidak meninggalkan aktivitas (belajarnya) karena penyakit ringan dan semisalnya yang mana ia masih sanggup untuk beraktivitas, dan hendaknya ia mencari kesembuhan dengan ilmu."
2. Derajat Ilmu sebagai Obat dan Warisan Nabi
Badruddin Ibnu Jama'ah dalam kitab Tadzkirah as-Sami' wa al-Mutakallim (hlm. 27) menceritakan kebiasaan salafus shalih:
"Sebagian ulama tidak meninggalkan aktivitas (belajar) karena penyakit ringan atau rasa sakit yang sepele, melainkan mereka mencari kesembuhan dengan ilmu dan tetap menyibukkan diri semampunya, sebagaimana syair mengatakan: 'Jika kami sakit, kami berobat dengan mengingatmu... Dan terkadang kami lupa mengingatmu, lalu sakit kami pun kambuh.' Hal tersebut karena derajat ilmu adalah derajat pewaris para Nabi, dan kedudukan mulia tidak bisa diraih kecuali dengan perjuangan yang keras."
3. Niat Berobat dengan Ilmu Menghilangkan Sakit Kepala
Imam Asy-Sya'rani mencatat pengalaman pribadinya bersama sang guru dalam kitab Ath-Thabaqat al-Kubra:
"Dulu, jika aku mengalami sakit kepala saat menelaah kitab, (Syekh Zakariya Al-Anshari) berkata: 'Niatkanlah mencari kesembuhan dengan ilmu.' Maka aku pun meniatkannya, lalu sakit kepala itu pun langsung hilang seketika."
Beliau juga menambahkan penjelasan yang sangat berharga dalam kitab Ath-Thabaqat as-Sughra (hlm. 33-34):
"Dulu, jika kepalaku sakit dan aku mengaduh kesakitan saat menelaah; (Syekh Zakariya) berkata kepadaku: 'Niatkanlah berobat dengan ilmu, niscaya sakitnya akan pergi.' Maka ketika aku meniatkannya, aku pun sembuh berkat keberkahan arahan beliau, bukan karena keikhlasanku. Ini adalah bukti atas keikhlasan Syekh dalam ilmu, karena seseorang tidak akan meniatkan kesembuhan melalui suatu amal yang tidak ada keikhlasan di dalamnya."
Kesimpulan untuk Praktisi dan Pasien JRA
Melalui rujukan di atas, Jam'iyyah Ruqyah Aswaja mengajak kita semua untuk tidak menjadikan rasa lesu atau sakit ringan sebagai alasan berhenti mengaji. Saat tubuh terasa kurang sehat, hadirkan niat di dalam hati: "Ya Allah, aku membaca dan mengkaji ilmu agama ini sebagai wasilah untuk mencari kesembuhan-Mu." InsyaAllah, berkah keikhlasan para ulama dan cahaya ilmu yang dipelajari akan menjadi obat penawar bagi fisik maupun psikis kita.
Redaksi (https://t.me/darulfatwa/2130)
الاستشفاء بالعلم
قال النووي في «المجموع شرح المهذب» (1/ 39): «ينبغي لكل واحد منهما (أي العالم والمتعلم) ألّا يخل بوظيفته لعروض مرض خفيف ونحوه مما يمكن معه الاشتغال ويستشفي بالعلم» اهـ.
قال بدر الدين ابن جماعة في «تذكرة السامع والمتكلم» (ص27): «وكان بعضهم لا يترك الاشتغال لعروض مرض خفيف أو ألم لطيف بل كان يستشفى بالعلم ويشغل بقدر الإمكان كما قيل:
إذا مرضنا تداوينا بذكركم … ونترك الذكر أحيانا فننتكس
وذلك لأن درجة العلم درجة وراثة الأنبياء، ولا تنال المعالي إلا بشق الأنفس» اهـ.
قال الشعراني في الطبقات الكبرى: «وكنت إذا حصل عندي صداع لحال المطالعة له يقول (الشيخ زكريا الأنصاري): انو الشفاء بالعلم فأنويه فيذهب الصداع لوقته» اهـ.
وقال في الطبقات الصغرى (ص 33-34): «كنت إذا حصل عندي صداع في رأسي وتأوهت وأنا أطالع؛ يقول (الشيخ زكريا) لي: "انوِ الاستشفاء بالعلم يذهب" فإذا نويت ذلك شفيت ببركة إشارته لا ببركة إخلاصي. وهذا دليل على إخلاص الشيخ في العلم فإن الإنسان لا ينوي الشفاء بعمل لا إخلاص فيه» اهـ.
.png)
Media Sosial