Hukum Syi'iran (Puji-pujian) di Masjid


Bagi orang yang hidup di pedesaan tentu sering mendengar lantunan syi’iran di masjid atau mushalla setelah azan dikumandangkan. Sebagian orang menjadikannya sebagai rutinitas yang harus dilakukan sambil menunggu imam dan makmum yang lain datang. Namun sebagian lain menganggapnya haram dan harus ditinggalkan sebab menganggapnya sebagai nyayian yang tidak pantas dilakukan di masjid. Bagaimana sebenarnya Islam menyikapi fenomena ini?
Syi’iran merupakan rangkaian kata indah yang dikemas menjadi bait-bait yang biasanya disenandungkan dengan nada khusus. Syi’iran merupakan bagian dari kalam (ucapan biasa), sehingga semua hukum yang berlaku pada ucapan biasa, berlaku pula pada syi’iran. Nabi saw. berkata dalam hadis riwayat al-Bukhari dalam kitab al-Adab al-Mufrad sebagai berikut.
الشعر بمنزلة الكلام، فحسنه كحسن الكلام، وقبيحه كقبيح الكلام.
“Kedudukan syi’ir seperti kedudukan ucapan biasa, maka baik syi’ir seperti baiknya ucapan, dan buruk syi’ir seperti buruknya ucapan.”
Berangkat dari hadis di atas, maka jelas bahwa hukum yang berlaku untuk ucapan biasa, berlaku pula bagi syi’ir. Artinya, jika baik, maka baik. Jika buruk, maka buruk pula.
Adapun hukum melantunkan syi’iran di masjid, Imam al-Qurtubi dalam tafsirnya menjelaskan:
وَقَدْ رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي غَيْرِ حَدِيثٍ رُخْصَةٌ فِي إِنْشَادِ الشِّعْرِ فِي الْمَسْجِدِ. قُلْتُ: أَمَّا تَنَاشُدُ الْأَشْعَارِ فَاخْتُلِفَ فِي ذَلِكَ، فَمِنْ مَانِعٍ مُطْلَقًا، وَمِنْ مُجِيزٍ مُطْلَقًا، وَالْأَوْلَى التَّفْصِيلُ، وَهُوَ أَنْ يُنْظَرَ إِلَى الشِّعْرِ فَإِنْ كَانَ مِمَّا يَقْتَضِي الثَّنَاءَ عَلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ أَوْ عَلَى رَسُولِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوِ الذَّبَّ عَنْهُمَا كَمَا كَانَ شِعْرُ حَسَّانَ، أَوْ يَتَضَمَّنُ الْحَضَّ عَلَى الْخَيْرِ وَالْوَعْظَ وَالزُّهْدَ فِي الدُّنْيَا وَالتَّقَلُّلَ مِنْهَا، فَهُوَ حَسَنٌ فِي الْمَسَاجِدِ وَغَيْرِهَا...
Telah diriwayatkan dari Nabi saw. keringanan untuk melantunkan syi’ir di masjid. Saya katakan: “melantunkan syi’iran terjadi perselisihan di antara para ulama, sebagian ada yang melarang secara mutlak dan sebagian lain memperbolehkan. Menurut al-Qurtubi, sikap yang terbaik dalam menyikapi masalah ini adalah memerinci hukum tersebut, yaitu melihat konten dari syi’iran tersebut. Jika bermuatan pujian terhadap Allah Swt. atau Rasul-Nya, atau menyemangati untuk berbuat baik, nasehat, zuhud terhadap dunia maka itu baik dan boleh dilakukan di masjid atau lainnya”. (Tafsir al-Qurtubi, vol. 12, hlm. 271).
Bahkan empat mazhab sepakat boleh melantunkan syi’iran di masjid, dengan syarat memuat konten positif, bermanfaat dan tidak mengganggu sebagaimana dijelaskan dalam kitab al-Fiqhu ‘Alā al-Mazāhib al-Arba’ah sebagai berikut.
الحنفية قالوا: الشعر في المسجد إن كان مشتملاً على مواعظ وحكم وذكر نعمة الله تعالى وصفة المتقين فهو حسن، وإن كان مشتملاً على ذكر الأطلال والأزمان، وتاريخ الأمم فمباح، وإن كان مشتملاً على هجو وسخف، فحرام، وإن كان مشتملاً على وصف الخدود والقدود والشعور والخصور، فمكروه إن لم يترتب عليه ثوران الشهوة، وإلا حرم.
الحنابلة قالوا: الشعر المتعلق بمدح النبي صلى الله عليه وسلم مما لا يحرم ولا يكره يباح إنشاده في المسجد.
المالكية قالوا: إنشاد الشعر في المسجد حسن إن تضمن ثناء على الله تعالى، أو على رسوله صلى الله عليه وسلم أو حثاً على خير، وغلا فلا يجوز.
الشافعية: إنشاد الشعر في المسجد إن اشتمل على حكم مواعظ وغير ذلك مما لا يخالف الشرع؛ ولم يشوش جائز، وإلا حرم.
Jelas dari teks di atas bahwa empat mazhab sepakat, bahwa melantunkan syi’iran di masjid hukumnya mubah, bahkan sebagian menganggap hal tersebut merupakan hal baik, dengan syarat syi’iran tersebut tidak mengganggu dan memuat konten yang positif -bukan hal-hal yang haram atau makruh-, seperti: nasehat, hikmah, pujian terhadap Allah Swt. dan Rasul-Nya saw., mengingat nikmat Allah Swt., atau hal-hal yang positif lainnya seperti memuat sifat-sifat orang bertakwa. Bahkan dari kalangan Hanafiyah berpendapat bahwa jika memuat memuat konten zaman atau sejarah, maka hukumnya mubah. (al-Fiqhu ‘Alā al-Mazāhib al-Arba’ah, vol. 1, hlm. 262).
Maka kesimpulan hukum melantunkan syi’iran di masjid adalah menyesuaikan kontennya, jika baik maka baik, jika buruk maka makruh, bahkan menjadi haram, karena syi’iran itu sama dengan ucapan biasa, jika baik, maka baik. Jika buruk, maka buruk pula.

Ditulis oleh : Abu Bakar, Lc., M.H. (JRA Ksatria Banyumas)
Disarikan dari :
      1. Al-Adab al-Mufrad karya Imam al-Bukhari.
      2. Tafsir al-Qurtubi, vol. 12, hlm. 271 karya Imam Muhammad bin Ahmad al-Qurtubi.
      3. Al-Fiqhu ‘Alā al-Mazāhib al-Arba’ah, vol. 1, hlm. 262 karya Abdurrahman al-Jaziri.