Ramadhan di Tarim dalam kenangan .

Suasana Sholat Terawih di Tarim

Namanya Yunus, pemuda berwajah polos asal desa Ramlah, setiap harinya dia menjaga kantin di Darul Aydrus, cabang Darul Musthafa tempat kami belajar pada tahun pertama di Tarim. Meski profesinya hanyalah penjaga kantin, layaknya banyak pemuda Tarim lainnya Yunus adalah seorang penghafal Alquran.

Suatu siang di bulan Ramadhan aku pernah iseng bertanya padanya :

" Gimana kalo di Ramadhan ini kita berlomba ? Siapa yang paling banyak hatam Alquran dia yang menang "

" Bismillah, ayo.. " jawab Yunus sambil tersenyum..

" Emangnya kamu udah punya target mau hatam berapa kali di Ramadhan kali ini ? " aku bertanya lagi.

" Insyaallah sepuluh kali .. " jawabnya santai. sepuluh kali itu kata dia masih "dibilang" sedikit, karena waktu itu dia juga sedang sibuk belajar untuk ujian akhir semester selain kesibukan jagain toko orang. sampai sekarang aku masih ingat wajah polos dengan senyum sederhana Yunus ketika menjawab pertanyaan itu.

Itu baru kisah tukang jaga kantin di Tarim, belum tentang para ulama dan Habaib-nya. Al-Imam Abdurrahman Assegaf, moyang dari para Habaib bermarga Assegaf rutin menghatamkan Al-Quran 8 kali setiap hari, 4 x di waktu siang dan 4 x diwaktu malam. Bahkan Aku sering mendengar dari Siidil Habib Umar, bahwa salah satu Habib dari Waadi 'Amd yang bernama Habib Muhammad Bin Sholeh Alatas mampu menghatamkan Al-Qur'an sebanyak 16 kali tiap harinya, 8 kali di waktu siang dan 8 kali di waktu malam.

Mengingat suasana Ramadhan di Tarim, aku teringat salah satu dawuh Ibnu Athaillah dalam hikam-nya :

ربما كنت مسيئا فأراك الإحسان منك صحبتك لمن هو أسوأ حالا منك .

" Seringkali engkau berbuat buruk, lantas pertemananmu dengan orang-orang yang lebih buruk darimu membuat dirimu merasa telah berbuat baik.. "

Hikmah ini adalah fenomena yang banyak terjadi pada kita di bulan suci Ramadhan. Baca Quran hanya beberapa lembar tiap hari, Tahajjud cuma dua raka'at, Tarawih tanpa khusuk secepat kilat. hanya dengan itu kita sudah merasa 'berbuat' banyak dan telah menunaikan hak Ramadhan sebaik-baiknya. Penyebab utamanya tentu adalah teman dan lingkungan.

Jika disekitar kita hanya berisi orang-orang yang melihat Ramadhan sebagai Tradisi tahunan yang akan lewat begitu saja ( sahur-buka-tarawih dan habis itu hari raya ) maka dengan Amal ibadah yg sangat hematpun kita sudah akan merasa puas dan berbangga, gara-garanya ya itu.. lingkungan yang dipenuhi orang-orang yang tak pernah memperlakukan Ramadhan sebagai 'Ramadhan'. Melihat mereka, Kita tak akan pernah mempunyai motivasi yang kuat untuk menjadi lebih baik dalam mendekatkan diri kepada Allah di bulan Ramadhan.

Berbeda jauh dengan apa yg dulu aku rasakan sendiri di Tarim. - yang seringkali aku katakan bahwa Ramadhan-nya adalah salah satu yang terbaik di dunia -. Disana bulan Ramadhan benar-benar hidup, Atmosfer Ramadhan begitu kental terasa, orang-orang disana seakan berlomba-lomba untuk menimbun amal kebaikan sebanyak-banyaknya di bulan penuh keberkahan ini.



Ramadhan di Tarim adalah Ibadah, ibadah dan ibadah.

Di Kota Tarim orang-orang begitu 'sibuk' di malam-malam Ramadhan, gak ada kata ngantuk apalagi tidur. Habis Takjil buka puasa, mereka langsung Sholat Maghrib dilanjutkan Sholat Bakdiyah dan Sholat Tasbih 4 Raka'at setelahnya. Sholat Tasbih selesai setelah itu Asya' (makan malam) dan istirahat sejenak menanti adzan isya dan Sholat Tarawih.

Di Tarim kita bisa melaksakan Sholat Tarawih 'sepuas-puasnya'. 20 raka'at, 40 raka'at, atau bahkan 100 raka'at !

Meski tergolong kota yang kecil dan sederhana, Tarim memiliki Ratusan masjid di dalamnya ! Dulu bahkan ada yang mengatakan jumlah masjid di Tarim sama dengan Jumlah hari dalam setahun ! 365 ! .
.
Masjid-masjid disini mempunyai sistem 'Tarawih estafet'. Misal : Jam 19:00 di Masjid A, Jam 19:30 di masjid B, begitu seterusnya sampai memasuki waktu sahur. Jadi sudah menjadi kebiasaan bagi sebagian orang disini melakukan 'loncat-loncat' Tarawih dari satu masjid ke masjid lainnya. Imbasnya, Tarim semalam penuh selalu 'hidup' dengan suara-suara imam tarawih.
.
Sehabis sahur, sebagian masjid mengadakan witir berjamaah -lagi- . Melaksanakan sholat witir 8 raka'at hingga witir mereka lengkap menjadi 11 raka'at dan Dilanjutkan dengan Wirid-wirid akhir malam sambil menanti adzan subuh.

Setelah Sholat Subuh, jalanan Tarim akan tampak ramai dipenuhi Motor-motor dan mobil-mobil yang berjalan menuju Darul Musthafa. Tujuan mereka adalah menghadiri pengajian Tafsir yang diadakan Habib Umar Bin Hafidz. Musholla Ahlul Kisa' selalu full jama'ah di setiap subuh Ramadhan. Kaum lelaki hadir pengajian, para wanita juga gak mau kalah dengan ikut menyimak lewat AlertnabawiTV atau Radio Nurul Iman. .

Matahari terbit dan pengajian selesai. Orang-orang beristirahat dan Tarim akan tampak seperti kota mati sampai waktu Dhuhur tiba. .

Setelah Dhuhur biasanya mereka akan sibuk membaca Alquran, baik secara jamaah(hizb) atau per-orangan, setelah ashar mereka akan ngabuburit dengan menghadiri Majlis Ilmu yang ada di Masjid-masjid Tarim.

Begitulah seterusnya sampai Ramadhan berakhir. tak ayal, dulu orang-orang Tarim selalu menangis bagai orang yang baru ditinggal mati istrinya di penghujung akhir Ramadhan, seakan berat sekali berpisah dengan bulan yang penuh dengan keberkahan itu. Bahkan konon mereka masih Belum move on meratapi kepergian Ramadhan sampai 6 bulan setelahnya.

Kini Ramadhan sudah di ambang pintu. Ada yang antusias, penuh semangat, memiliki banyak target amal ibadah untuk lebih mendekat kepada-Nya . Ada juga yg biasa-biasa aja, senang karena Menu-menu istimewa yang akan tersaji di atas meja, kluyuran malam, sahur-tidur-buka puasa, fesbukan, watsapan, instagraman. Udah itu aja dan habis itu beli baju baru buat hari raya, baginya Ramadhan tak ubahnya tradisi dan adat tahunan.

Ramadhan dengan segala keagungan dan keindahannya, amal ibadah yang dilipatgandakan pahalanya, pintu-pintu rahmat Allah yang terbuka lebar, dan puluhan keutamaan yang telah Rasulullah Saw jelaskan dalam sabda-sabdanya. jika dengan itu semua kita masih belum tergoda untuk berubah, mendekat, dan berusaha menjadi hamba yg lebih baik maka kebaikan apa lagi yang bisa diharapkan dari diri kita ? .

Marhaban Ya Syahra Ramadhan, semoga kita bukan termasuk dari orang-orang yang mengucapkan Marhaban kepadamu tapi sikap dan kelakuannya malah menunjukkan ketidak pedulian terhadap keagungan dan kemuliaanmu.

Sumber: Ismael Amin Kholil, Bangkalan, 20 April 2020
https://www.instagram.com/p/B_MYtPUHT6r/?igshid=1hlvnr69cmund

Aceh serambi Mekkah
Gorontalo serambi Madinnah.
Semoga kelak Semarang menjadi serambi Tarim.
Semoga kota Semarang bisa seperti kota tarim yang berkah khususnya dan Kota-kota di Indonesia pada umumnya.
Aamiin.
Al Qur'an sebagai obat yang pertama dan yang utama.
Follow IG : jra_kota_semarang
Facebook : Ruqyah Aswaja Cabang Semarang
Sekretariat  JRA kota Semarang
Perumahan Sambungharjo Permai Blok E-19
Rt 03/08 Kelurahan Sambungharjo Kecamatan Genuk Kota Semarang
HP 089667994881